Dua orang ini hidup di wilayah konflik selama belasan tahun terakhir. Afghanistan, Pakistan, Aceh, Timor Timur, dan lain-lain. Fokus kerjanya di bidang pendidikan peacebuilding.
Keduanya adalah Paul-Philip Michelseon (Paco) dan perempuan Korea, Silver (nama alias). Mereka datang dengan didampingi seorang aktivis lintas agama, Roni C. Kristanto. Ontime, pukul 14.00 WIB, Rabu (1/12/2010).
Selain anggota AJI, acara dadakan ini dihadiri kolega-kurator seni, Tubagus Svarajati, aktivis NGO asal Belanda, Willy, dan undangan. Lesehan, hanya ditemani kripik singkong dan air putih.
Di berbagai pelosok, kedua relawan ini membentuk komunitas dan membangun sekolah secara swadaya. Mereka mendidik anak-anak dan remaja dengan model partisipatoris. Lebih sering bermain daripada ceramah.
Di Aceh, mereka meminta anak-anak menggambar bebas. Hasilnya, anak-anak ini melukiskan senjata AK 47, tentara, dan serba seram. (Mungkin imbas dari DOM). Oleh relawan gambar-gambar itu dipotong dengan gunting sebagai simbol perdamaian.
Paco mengaku dirinya bukan aktivis NGO internasional dengan dana berlimpah. Wajahnya yang bule kerap 'menipu' komunitas yang didatanginya. "At first, I told my project is no money. If they didn't accept me, I leaved it," katanya.
Silver menambahkan, Frontier tak banyak mengumbar dana. Untuk satu relawan, mereka hanya bisa memberi $40 per bulan. Jika dikurs-kan, nilainya kira-kira Rp 350 ribu. Jauh lebih rendah dibanding UMK kota miskin di Indonesia!
"Maybe you want to join?" kata Paco sambil menatap peserta ngobrol. Yang ditatap, hanya tersenyum.
Paco dan Silver 'diculik' Tubagus. Ia mengajak keduanya ngobrol di AJI Semarang sebelum hadir di IAIN Walisongo Semarang, Kamis (2/12).
Kedua relawan beda ras ini merupakan suami istri. Mereka dipertemukan dengan kesamaan 'ideologi': hidup penuh kerja dan menjauhkan diri dari keduniawian. "We married last year in Korea. A simple marriage," kata SIlver dengan mata menerawang.
No comments:
Post a Comment