WNI di perbatasan, sebagian besar hidup dalam kekurangan. Mereka kecewa dengan pemerintah, karena tak pernah diperhatikan. Meski begitu, nasionalisme mereka tak perlu diragukan.
"Jika disodori pilihan, pindah warga negara atau tetap WNI, mereka memilih Indonesia," tutur Farid Gaban usai pemutaran film Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa malam itu, Sabtu, 18 Juni 2011.
Pernyataan tersebut menjawab rasa penasaran beberapa undangan. Farid yang berkeliling ke pulau-pulau terluar di Indonesia sejak awal 2010 itu, mengaku dirinya sempat mampir ke perbatasan Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor-Timor. Terasa betul, infrastruktur yang acakadul, kebijakan yang tak menyentuh, dan lain-lain.
Mantan Redaktur Pelaksana Tempo ini menduga, rasa nasionalisme WNI di perbatasan terbentuk dari faktor bahasa. Itu terbentuk dari media, terutama televisi. Meski jauh dari 'teknologi', hampir di semua kawasan perbatasan, siara televisi bisa dinikmati.
"Televisi, terlepas dari banyak aspek negatifnya, saya kira turut berperan menyebarkan nasionalisme di perbatasan," katanya.
Farid yang berpartner dengan Ahmad Yunus itu menambahkan, meski tak semua WNI di perbatasan bisa berbahasa Indonesia, paling tidak ada satu dua orang yang lancar berbahasa Indonesia. Terutama dari kalangan muda yang pernah mencicipi kehidupan luar. Sisanya berbahasa lokal atau kadang malah bahasa negara lain.
Farid berbagi banyak soal pengalamannya. Mulai dari kehidupan orang-orang yang ditemui, tempat-tempat menakjubkan hingga privasi. Mantan peliput Perang Bosnia ini tidak segan bercerita bagaimana perasaannya meninggalkan keluarga, total biaya yang dihabiskannya, dan 'siapa' yang membayarnya.
Malam itu, puluhan peserta diskusi dan nonton bareng Film Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa hanya mendengar dan berbagi cerita. Tapi mungkin, kelak ada yang 'mengikuti' jejak penjelajahan Farid dan Yunus. "Saya kira, masih banyak yang perlu dieksplorasi di negeri kita ini," tutur Farid.
No comments:
Post a Comment