Media massa cetak saat ini memberi tempat yang sangat terbatas pada isu tentang anak. Padahal, jika diolah, topik anak sangat potensial untuk menjadi bahan tulisan yang menarik. Dari sana proyeksi masyarakat masa depan bisa tergambar.
Pada Pelatihan Jurnalisme Investigasi untuk Isu Anak, hal itu dicoba dibuktikan. Sosok anak tidak ditampilkan sebagai objek yang terselubung di dalam topik-topik tentang pendidikan, kriminalitas, dan sebagainya, melainkan sebagai sentrum.
Beberapa topik menarik bisa dihasilkan para peserta pelatihan yang diselenggarakan bersama oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang, BIKK dan Unicef Perwakilan Jateng di Salatiga, 14-16 Maret lalu. Dalam pelatihan itu, mereka melakukan praktek liputan secara kelompok.
Satu kelompok, yang menulis tentang aktivitas anak di arena video game mendapatakan sejumlah fakta yang menarik: mereka bisa bermain lebih dari 6 jam dengan pembiayaan secara berkelompok, ada sebagian orang tua yang mendukung anak untuk ber-video game karena pilihan itu dianggap lebih baik daripada si anak menjadi ’’liar’’, fasilitas-fasilitas video game yang menarik, dan lainnya.
Beri Perspektif Maria Hartiningsih, wartawan senior Kompas, yang menjadi fasilitator pendamping mereka pada pelatihan itu, mengemukakan pujian atas temuan-temuan peserta pelatihan di lapangan. ’’Tapi pemaparan fakta saja belum cukup. Fakta itu harus kita beri perspektif agar makin memiliki makna. Maka itu, upaya-upaya pendalaman dan penggalian data, serta komparasi, perlu dilakukan. Itu gunanya investigasi,’’ kata wartawan yang juga pejuang perempuan dan anak ini.
Menurut Maria, yang lahir dan menyelesaikan masa SMP nya di Semarang ini, dampak yang muncul dari keberadaan video game saat ini juga menjadi persoalan serius di Jepang. Karena, anak-anak yang asyik dengan permainan itu cenderung menjadi a-sosial. ’’Tampaknya saja komunal, misalnya dengan urunan untuk membayar sewa, tapi dampaknya justru menciptakan anak yang a-sosial, cuek dengan situasi sekitarnya.’’
Di Indonesia, persoalan menjadi lebih serius. Karena dengan hadirnya sarana permainan yang individual, seperti game di komputer maupun video game, berbagai permainan tradisi untuk anak juga semakin hilang, sejalan dengan hilangnya ruang bermain anak karena tata kota yang buruk.
Kehadiran Maria Hartiningsih sebagai fasilitator memang sangat memperkaya peserta pelatihan. Ia juga cermat dalam memperhatikan detail. Pada kelompok yang merekam aktivitas anak di tempat lokalisasi di Salatiga, ia merasa perlu memberi komentar pada cita-cita anak-anak tersebut yang menjadi buruh pabrik. ’’Itu aneh. Perlu didalami dari mana datangnya cita-cita itu. Biasanya, cita-cita anak di daerah lokalisasi adalah menjadi polisi, yang menjadi sosok yang dihormati atau ditakuti,’’ tuturnya. (Anto Prabowo)
Sumber: http://suaramerdeka.com
No comments:
Post a Comment